
Sebenarnya saya kurang pede sih menulis soal ini, soalnya seolah-olah saya sudah penulis pro padahal ilmunya masih cetek, tapi karena niatnya hanya untuk sharing, bukan untuk menyombongkan diri seperti yang biasa saya lakukan di depan teman-teman saya, jadi ya sudah bismillah saja..
Saya memang punya ketertarikan sendiri untuk menulis mengenai isu-isu psikologis, khususnya yang terjadi pada remaja. Setelah menulis yang manis-manis macam Confession dan All You Need is Love, Happiness menjadi novel pertama saya yang mengangkat permasalahan psikologis remaja. Iri hati dan rasa tertekan yang muncul karena “salah jurusan” dan “dibanding-bandingkan” menjadi tema utama yang menjadi bekal penulisan Happiness.
Selepas Happiness terbit, saya mulai agak kecanduan menulis lebih jauh tentang isu psikologis remaja. Bukan hanya karena waktu itu Happiness diterima dengan baik oleh pembaca, tapi juga karena mengulik emosi manusia dan menuliskannya menjadi sebuah media katarsis bagi saya, seperti yang pernah saya ceritakan juga di Jurnal Ruang. Saya akhirnya melanjutkan sebuah naskah yang awal premisnya adalah remaja broken home yang tidak punya teman, mengembangkan premisnya dan menyelesaikan naskah itu di NaNoWriMo 2015. Naskah itu saya beri judul Persona, dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada April 2016.
Barangkali, Persona adalah momentum saya, karena setelahnya saya tidak bisa berhenti.
Waktu saya mulai mengonsep Represi, editor saya bertanya, “Tentang apa lagi nih, Is?”
Saya menjelaskan konsep Represi secara singkat lewat pesan chat, dan saat itu editor saya membalas, “Mau jadi spesialis sicklit nih, Is?”
Saya tertawa dan mengetik, “Boleh aja kalau bisa.”
Ya, saya sama sekali tidak keberatan kalau kemudian dilabeli sebagai penulis sicklit, karena memang ternyata saya sangat menikmati proses yang terjadi di dalam diri saya ketika saya menulis cerita yang sarat dengan isu psikologis. Saya merasa bertumbuh bersama tulisan-tulisan saya. Lebih jauh, ketika Persona tiba di tangan pembaca, tidak sedikit dari mereka yang mengirimi saya surel, mengatakan bahwa mereka merasa terbantu, atau mereka merasa tidak sendirian, atau tulisan saya mengubah cara pandang mereka.
Dan sejak itu saya tahu, bahwa sebagian besar tulisan saya akan bercerita tentang permasalahan—atau paling tidak kondisi—psikologis seseorang serta segala hal yang menyertainya.
***
Tema sicklit sebenarnya bukan hal yang baru dalam literasi Indonesia, tapi mungkin istilahnya masih jarang digunakan. Biasanya sicklit mengacu pada cerita yang tokoh utamanya “sakit” entah itu sakit fisik maupun psikologis. Karena tiga novel terakhir saya mengulik tentang permasalahan psikologis, jadi kali ini saya hanya akan bercerita tentang sicklit psikologis (saya masih belum tahu apa ada istilahnya masing-masing atau semua disebut sicklit saja), yang menurut saya merupakan tema yang susah-susah gampang atau gampang-gampang susah, tergantung bagaimana kita memaknainya.
Ada banyak sekali isu psikologis yang bisa dieksplorasi dan digunakan sebagai premis cerita. Bukan hanya depresi. Namun, depresi menjadi yang paling umum diceritakan karena gejala yang terlihat sangat jelas, dialami oleh banyak orang dan juga dapat menjadi bagian dari gangguan lain seperti bipolar dan skizofrenia. Penurunan fungsi hidup biasanya terlihat jelas pada orang-orang yang mengalami depresi, sehingga menuliskannya ke dalam sebuah narasi pun menjadi lebih mudah dibandingkan harus menulis tentang masalah psikologis lain yang gejalanya tidak terlalu jelas serta hanya dialami oleh sedikit orang.
Tapi bukan berarti juga menulis tentang depresi yang mudah itu gampang. Nah loh.
Kesulitan pertama yang saya hadapi ketika harus menulis sicklit adalah membuat deskripsi tentang kondisi psikologis tokoh dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca tanpa harus membuat kondisi tersebut kelihatan biasa. Percaya deh ini tuh lumayan susah. Makanya saya jarang menulis novel yang panjang. Makanya juga kadang saya suka sensi sama yang bilang, “Kak Iis coba dong kalau nulis novel dipanjangin lagi.”
Kesulitan kedua adalah membatasi diri dengan tokoh yang sedang ditulis. Karena ya, sadar atau tidak, ketika menulis sesuatu yang emosional, kita pasti akan memanggil ulang keadaan atau kondisi yang membuat kita merasakan emosi yang sama atau paling tidak mirip dengan si tokoh. Godaan untuk benar-benar curhat (bukan curhat colongan) besar sekali, sodara-sodara! Pokoknya jangan sampai kita jadi menulis autobiografi bukan novel fiksi.
Kesulitan ketiga adalah tetap stabil. Kenapa nih? Apakah Iis jadi tidak stabil ketika menulis sicklit? Jawabannya: iya. Loh kenapa? Bukannya sudah membatasi diri seperti poin kesulitan kedua di atas?
Jawabannya: membatasi diri beda dengan berempati terhadap tokoh. Saya tipikal penulis yang kalau tokohnya jatuh cinta, saya akan ikut senyum-senyum bahkan cekikikan. Kalau tokohnya sedih, saya akan ikut menangis. Kalau tokohnya marah, saya ikut pengin makan banyak (lah). Kalau tokohnya depresi atau pengin bunuh diri? Ya.. silakan dipikirkan sendiri. Intinya, menjaga kestabilan diri selama menulis sicklit penting sekaligus pe-er buat saya.
Kesulitan keempat bagi saya adalah memastikan kalau penyebab masalah psikologisnya logis. Di dalam ilmu psikologi dikenal dengan faktor resiko (risk factor) dan faktor protektif (protective factor). Jadi, masalah psikologis bisa muncul kalau faktor resiko di dalam diri individu lebih besar daripada faktor protektifnya. Faktor-faktor ini muncul dari mana saja, bisa dari genetik, kepribadian, lingkungan, kejadian traumatis, dukungan sosial dan sebagainya. Jadi misalnya dia berada di lingkungan yang suportif dan kepribadiannya asyik, kemungkinan dia untuk terkena masalah psikologis lebih kecil, tapi kemungkinannya akan membesar ketika ada faktor resiko yang muncul misal dia memiliki kejadian traumatis. Semakin banyak faktor resikonya (misal udah punya kejadian traumatis, eh ternyata dia nggak dapat dukungan sosial), biasanya gangguan yang dialami atau dimiliki oleh orang tersebut akan semakin parah. Sampai sini paham kan, ya? Soalnya kalau lebih panjang jadinya bakal kuliah psikologi nih kita. Jadi, kadang saya suka misuh-misuh kalau baca cerita yang ada gangguan psikologis tapi kok kelihatannya hidup si tokoh baik-baik saja, haha ya maaf.
Nah, secara garis besar empat poin itu sih yang seringkali membuat saya maju mundur dalam mengerjakan naskah yang temanya sicklit, tapi kalau pondasinya sudah kukuh biasanya menulisnya juga jadi lancar dan semakin ke belakang terasa lebih mudah. Wah, karena apa nih?
Pertama, karena menulis sicklit itu syarat utamanya adalah background tokoh harus kuat, biasanya karakterisasi tokoh juga sudah oke. Bagi saya yang kurang pandai bikin outline, karakter itu sangat penting dalam menggerakkan cerita. Kalau karakterisasinya sudah mantap biasanya adegan demi adegan suka muncul sendiri.
Kedua, dalam penelitian Pennebaker (waduh berat amat nih bahasannya), menulis tentang emosi terbukti dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan subjektif dan psikologis individu. Pennebaker memang meneliti orang-orang yang membuat jurnal harian dan curhat tentang emosi dan kondisi mereka saat itu, tapi belakangan penelitian tentang menulis sebagai terapi psikologis juga berkembang ke penulisan cerita fiksi yang memuat emosi dari penulisnya. Jadi sekali dayung, dua tiga pulau terlewati. Sekalian menulis, sekalian terapi. Mantap kan? Saya sudah mencobanya waktu menulis Represi, lho ~
Ketiga, ini berdasarkan resensi dan surel yang saya terima ya, menulis sicklit membuat masyarakat jadi lebih aware tentang tema yang kita bawa. Orang akan malas kalau disuruh mendengarkan presentasi, jadi daripada capek-capek bicara tanpa ada yang mendengarkan, kita tulis saja menjadi sebuah cerita yang bisa dibaca banyak orang.
Nah, banyak sekali kan manfaat yang bisa kita dapatkan? Saya tidak akan bilang menulis sicklit gampang karena pada kenyataannya susah, tapi juga sebenarnya tidak sesusah itu. Selain itu, ada perasaan, pikiran, bahkan pemahaman baru yang kita dapatkan setelah selesai menulisnya. Belum lagi kita bisa berkontribusi dalam meningkatkan awareness masyarakat terhadap isu-isu yang mungkin belum diketahui. Duh, ini lama-lama jadi kampanye soal kesehatan mental nih nanti x)))
Demikian ya curhat singkat saya tentang sicklit, semoga ada manfaatnya walau sedikit. Selamat membaca, selamat menulis, salam literasi! ~
Gara-gara represi aku jadi lebih mengerti soal depresi. Makasih ya kak fakhrisina. Btw, aku adalah penyitas bipolar dan aku dengan kalau kak fakhrisina sedang butuh cerita soal bipolar, aku dengan senang hati mau ceritain. Hehr
LikeLike