“Kamu pernah nggak sih kangen sama aku?”
Pertanyaan itu pernah kutanyakan padanya beberapa minggu setelah kami saling kenal. Pertanyaan yang awalnya kutanyakan dengan maksud bercanda, tapi ternyata aku juga begitu penasaran dengan jawabannya. Kalau diingat-ingat lagi, mungkin itu adalah saat-saat awal aku menyadari kalau ada perasaan yang berbeda yang kumiliki untuknya. Kupikir aku hanya bercanda dan aku benar-benar berharap kalau aku memang hanya bercanda.
Sayangnya, ternyata perasaanku tidak bercanda.
Waktu itu, dia tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya tertawa, dan tawa yang diberikan untuk sebuah pertanyaan berarti dia tidak ingin menjawab pertanyaan itu.
Seringkali, dia tidak ingin menjawab karena jawabannya adalah tidak.
Dan dia terlalu baik untuk berterus terang.
Aku bisa mengingat pertanyaan itu, jawabannya, serta malam yang dingin dan basah setelah hujan. Kami berjalan bersisian menyusuri trotoar yang lengang. Kenapa saat itu aku bisa bersamanya? Karena aku. Aku dengan iseng mengiriminya pesan, “Kangen, nih. Sore ini free, nggak? Ngopi, yuk!”
Iseng-iseng berhadiah, karena dia dengan segera membalas, “Yuk! Di mana?”
Dan ngopi sore itu berlanjut dengan jalan-jalan menyusuri trotoar karena aku ingin makan nasi goreng abang-abang di pinggiran jalan.
Kami tidak banyak bicara sepanjang jalan. Malam itu terasa begitu menyenangkan karena keheningan di antara kami tidak terasa canggung. Rasanya justru begitu pas, dan untuk beberapa hal yang sampai sekarang belum bisa kupahami, malam itu, dengan dia berjalan di sisiku, dalam diam kami yang sibuk dengan pikiran masing-masing, aku merasa bahagia.
Bahkan, ketika kami telah tiba di sebuah warung tenda yang menjual nasi goreng (dan penjualnya abang-abang), dan aku memecah keheningan dengan menanyakan pertanyaan itu, kebahagiaanku tidak berkurang meski jawabannya adalah tidak.
Segala tentangnya dan tentang kami terasa aneh dan tepat di saat bersamaan. Aku menikmati saat-saat diriku jatuh padanya tanpa persiapan apa pun. Begitu saja. Tanpa harus berpikir tentang nanti, tentang bagaimana jika, dan tentang-tentang yang lain. Aku menikmati saat perasaanku tumpah ruah tanpa harus dipaksa dan tanpa harus ditahan-tahan. Begitu saja.
Dan aku bahkan tidak menginginkan apa pun darinya.
Benarkah?
Sekarang, saat aku duduk sendirian di kamar dan melihat tetesan hujan mengalir di kaca jendela, pertanyaanku malam itu berulang di dalam kepala.
“Kamu pernah nggak sih kangen sama aku?”
Karena aku sering.
Karena saat ini aku kangen kamu.
Salah satu kalimat dari lagu Taylor Swift di playlist-ku sayup-sayup terdengar.
All that I know is I don’t know how to be something you miss..
Dan pagi ini jadi terasa begitu sendu.