Journal, Random Thought

Aries

Beberapa waktu lalu, gue membaca buku terbaru Seplia yang berjudul Kelly on the Move. Buku itu menceritakan tentang Kelly yang jatuh bangun setelah ditinggal pacarnya, padahal mereka sudah jadian selama sepuluh tahun. Waktu membaca buku itu, gue nggak berhenti baper. Sebagian besar cerita itu menohok gue teramat dalam, pacaran lama, mendampingi ketika susah, dan ketika his life is getting better, gue ditinggal dengan alasan nggak sayang lagi. Gue bahkan berkaca-kaca dan nyaris beneran nangis di beberapa bagian, terutama saat Seplia menuliskan narasi tentang pekerja seni yang membuat sebuah karya tentang kenangan menyakitkan bukan semata karena mereka ingin mengingat, tapi juga karena ingin membuang kenangan itu.

Yang gue nggak menyangka terjadi kemudian adalah apa yang terjadi pada Kelly, terjadi juga pada gue: orang yang dulu sangat gue sayangi itu akan menikah.

Barangkali, kalau gue membaca lagi Kelly on the Move sekarang, bagian itu akan membuat gue menangis.

***

Gue tiba di kafe favorit gue pukul dua siang lewat sedikit dan langsung memindai area indoor dan outdoor lantai pertama kafe itu. Nah, itu dia. Orang yang mau gue temui sudah duduk manis di salah satu kursi bagian outdoor. Ada sepiring cake red velvet di depannya dan dia langsung melambai begitu melihat gue. Gue menyalaminya, kami saling mencium pipi kiri dan kanan, lalu gue meninggalkan dia yang sedang dihampiri waitress yang membawakan minuman—kayaknya es kopi—untuk memesan chocobanana. Baterai ponsel gue nyaris habis, jadi ketika pesanan gue datang, kita sepakat untuk pindah ke area outdoor lantai dua yang punya lebih banyak tempat colokan. Gue pikir pertemuan hari ini bakal biasa-biasa saja (atau malah canggung karena gue dan dia udah lama nggak ketemu), tapi gue salah. We had a deep convo, sampai akhirnya deep convo itu mendadak berbelok ke arah yang nggak gue sangka-sangka.

“Eh, si Aries mau nikah, kan?”

Mungkin, kalau gue adalah salah satu tokoh di dalam novel, penulisnya bakalan mendeskripsikan gue dengan: gadis itu tertegun selama beberapa saat, tapi dengan segera berusaha mengatur raut wajahnya menjadi setenang sebelumnya. Sebab dia tidak ingin alwan bicaranya tahu, ada sesuatu yang terasa sakit di dalam dirinya ketika mendengar pertanyaan itu.

Gue, nggak berusaha kelihatan terkejut karena terkejut beneran, balas bertanya, “Oh, ya? Nggak tahu, nggak pernah dengar kabarnya lagi.” lalu melanjutkan dengan pertanyaan yang gue harap nggak terdengar terlalu kepo, “Emang iya?”

And it’s a yes.

Dan gue harus menahan diri sekian jam—selama menemani orang yang gue temui itu dari kafe mencari oleh-oleh, lalu makan bebek di mal favorit gue—dari merasa nggak baik-baik aja dengan berusaha berpura-pura kalau gue baik-baik aja, sementara pikiran gue—perasaan gue apalagi—udah mulai penuh sesak dan nyaris meledak.

Gue nyaris meledak.

Gue sudah berkaca-kaca di perjalanan pulang dari mal menumpang grab untuk mengambil motor yang tadi gue tinggalkan di kafe. Gerimis mulai turun ketika gue berkendara pulang, dan sebelum benar-benar menangis, gue mengganti baju dengan baju kebangsaan gue tiap latihan nge-dance (no, i’m not good at it I’m just doing my excercise), mengabaikan fakta bahwa jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas, dan gue memutar ulang Come Back Home-nya 2ne1 entah berapa kali hingga empat puluh menit kemudian. Gue mengikuti gerakan dance mereka sampai banjir keringat, berharap semua yang menyesaki kepala gue ikut mengucur pergi meninggalkan diri gue. Sayangnya nggak. Bahkan ketika gue sudah cooling down dan mandi, gue melakukan semua rutinitas itu nyaris tanpa berpikir. Otomatis. Karena benak gue sibuk dan riuh memikirkan pertanyaan yang sekarang berupa pernyataan itu: Aries mau nikah.

Gue bisa aja bilang ke semua orang kalau gue sudah nggak mencintai dia lagi. Gue pikir juga begitu. Gue bahkan bisa mulai menyayangi orang lain, menyibukkan diri gue dengan segala yang gue punya, lantas gue sendiri juga heran, kenapa setiap gema di kepala gue tentang kabar dia mau nikah itu terasa menyakiti gue? Bahkan, gue kembali merasa bahwa gue nggak cukup baik. Gue kembali mempertanyakan apa yang ada di dalam diri gue yang membuat gue nggak dipilih oleh dia dan apakah gue nggak cukup layak untuk diperjuangkan (damn, gue lagi-lagi teringat Kelly). Ingatan gue dengan lancangnya membawa gue pada masa-masa gue sering masak untuk dia di saat kita berdua sama-sama nggak punya uang, di saat gue pikir dialah yang akan ada di masa depan gue dan gue yang akan ada di masa depan dia, di saat gue sudah nggak ingin membayangkan siapa-siapa lagi selain dia…… namun sayangnya, dia nggak membayangkan hal yang sama.

Atau mungkin dulu pernah, tapi tidak lagi.

Dan itu membuat semuanya terasa lebih menyakitkan.

Gue benci merasa nggak cukup baik, tapi sekarang itulah yang gue rasakan. Gue tahu dengan atau tanpa dia gue akan tetap menjadi gue yang stand tall and fabulous itu, yang suka menyombongkan diri and exactly know my worth. Bahwa gue deserve better and maybe he’s not even good for me.

Dan itu sebesar gue tahu kalau waktu diulang, barangkali di awal, gue akan tetap memilih dia. Sementara barangkali, dia akan selalu punya pilihan selain gue.

Bahwa barangkali, sejak awal gue memang bukan satu-satunya.

Sementara gue menyayangi dia sebesar-besarnya.

Dan sekarang semua ini terasa sangat nggak adil buat gue.

Gue menghubungi beberapa sahabat gue hari ini, mendapatkan respons persis seperti yang gue bayangkan akan mereka berikan, berharap itu cukup, tapi ternyata juga nggak. Gue bahkan bingung sebenarnya gue sedang merasa apa dan bagaimana. Gue nggak tahu apakah rasa sakit yang datang ini dikarenakan gue hanya merasa kalah karena dia sudah lebih dulu mendapatkan pengganti gue atau karena memang gue masih punya perasaan yang gue pikir udah nggak ada. Yang gue tahu, gue mungkin nggak akan sanggup melewati semua ini sendiri…

Karena gue nggak baik-baik aja.

Leave a comment