Review

William Hakim, Bintang Paling Terang

Bismillah.. Sebelum tulisan yang semacam ulasan tapi juga bukan ulasan ini, izinkan aku memulainya dengan sebuah kalimat dari William Hakim dalam Forgiven yang aku yakin bergema di hati penggemarnya.

“Akhirnya, ada beberapa hal yang aku nggak ahli kan, K. I can’t tell you how I love you. That’s just—way beyond my vocabulary.”

*kemudian aku galau hingga seratus tahun kemudian*

***

Aku pertama kali mengenal William Hakim pada pertengahan tahun 2012, dua tahun setelah  ceritanya diterbitkan oleh GagasMedia. Aku pernah mengulasnya secara singkat di sini, dan seperti yang tertulis di sana, salah satu alasanku membeli buku itu selain sampulnya adalah karena aku punya sahabat laki-laki yang kupanggil Will. Aku mengalami book-hangover yang cukup berat setelah membaca Forgiven untuk pertama kali. Aku bahkan merasa begitu sedih hanya dengan melihat punggung bukunya.

Perjalanan Karla di dalam Forgiven—dan persahabatannya dengan Will—terpetakan dengan jelas hingga lama setelahnya. Setelah review itu ditulis, tak terhitung berapa kali aku membaca ulang Forgiven. Jatuh hati lagi, patah hati lagi, berkali-kali. William Hakim terus membayangi selama bertahun-tahun. Dia berhak hidup seratus tahun lagi, kalimat itu juga terus menggema. Lalu, ketika kemudian aku tahu kalau penulisnya kembali menghidupkan William, aku merasa gumpalan berbagai emosi itu bersarang di dadaku.

Break Even terbit, preorder dibuka, tentu aku ikut preorder-nya. Namun, ketika Break Even—juga Forgiven yang telah dikemas dan dicetak ulang—tiba, aku tidak memliki keberanian sedikitpun untuk membacanya.

Aku takut pada apa pun yang mungkin kutemukan. Cerita-cerita tentang Will yang seharusnya saat itu, di Forgiven, sudah dieksekusi. Cerita-cerita yang mungkin menumbuhkan harapan di dadaku bahwa barangkali ia memang masih hidup, bandel, setia kawan dan tentu saja—bersinar. Aku membiarkan Forgiven dan Break Even tergeletak di sisi kasur selama beberapa waktu sampai akhirnya aku membacanya, kembali pada jejak-jejak Will sepuluh atau sebelas tahun yang lalu (yang kini telah menjadi dua puluh atau dua puluh satu tahun yang lalu) di Forgiven. Mengalami lagi perasaan sayang yang tumbuh pelan-pelan atas apa pun yang ia lakukan untuk sahabat-sahabatnya—dan untuk Karla, teringat pada sahabat-sahabatku sendiri, lalu kembali menangis saat tiba di ujung buku.

Memulai Break Even terasa menakutkan, karena harapan itu—bahwa dia masih ada—terus tumbuh di hatiku.

***

Setahun setelah eksekusi itu, Karla didatangi oleh beberapa orang dari agen federal (yang kata Troy mirip sales, lol) menanyakan tentang seseorang yang mirip Will (tapi bukan Will, orang itu bernama Chester Winston) dan tentang Will sendiri. Mereka bilang, Chester dan Will melarikan diri. Melarikan diri, katanya. Aku berada di antara histeris dan limbung membacanya, apalagi Karla. Melarikan diri. Itu berarti, hari itu Will tidak jadi dieksekusi. Itu berarti, masih ada kemungkinan William Hakim berada di luar sana dan hidup.

Tapi, Karla tidak tahu apa-apa. Maka jawaban itulah yang Karla berikan pada anggota federal itu, agar mereka pergi dari rumahnya. Namun, informasi baru itu membuat Karla kembali mendatangi Nicolas, dan mereka bertemu di makam Will. Nicolas menunjukkan nisan bertuliskan nama William Hakim. Menunjukkan kalau Will memang sudah tidak ada.

Tapi kalau Will memang sudah tidak ada, kenapa para anggota federal itu mencarinya?

***

Aku membaca Break Even dengan perlahan. Kembali menemui Will lewat cerita-cerita yang dibagi oleh orang-orang yang Karla temui demi mendapatkan jawaban tentang Will. Cerita-cerita itu acak, dan bersama Karla, pembaca akan berusaha menyusunnya seperti puzzle. Hingga akhirnya kepingan itu genap, dan air mataku tumpah.

Energinya besar sekali, William itu. Seperti pendulum yang akan tetap bergerak dalam gaya yang sama besar, yang Nicolas jelaskan pada Karla di antara percakapan-percakapan mereka. Dan energi Will yang besar itu juga mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Sulit untuk tidak sayang pada Will. Aku rasa semua begitu. Meskipun dia bandel, jahil dan tidak bisa ditebak—tidak pernah bisa ditebak—jalan pikirannya, orang-orang akan tetap dengan mudah menyayanginya. Karena memang seperti itulah Will. Dia punya energi yang besar, dia menyayangi sahabat-sahabatnya dan itulah yang akan kembali padanya. Selalu seperti itu, persis seperti hukum kekekalan energi.

Dan itu juga yang membuat namanya hidup sekian lama.

***

Terima kasih, Kak Morra, sudah menghadirkan Will lagi untukku menuntaskan rindu. Sebagai catatan, terutama di Forgiven yang baru ini, ada beberapa typo seperti merubah, dirubah dan kata-kata yang seharusnya dicetak miring (dan hal-hal lain, tapi aku lupa yang mana saja) karena—aku hampir yakin—Forgiven dan Break Even masih akan dicetak lagi.

Karena William Hakim masih akan hidup hingga seratus tahun lagi.

Leave a comment