Aku suka malam yang terasa hangat di kota ini dan menikmati saat-saat aku harus keluar rumah tanpa harus mengenakan jaket. Aku juga suka berbagai kuliner yang rasanya tidak bisa ditandingi tempat-tempat lain. Aku suka ruas-ruas jalannya yang lebar dan lengang, langit birunya yang terbentang dan aromanya ketika diguyur hujan.
Aku ingin bercerita lebih panjang padamu tentang melankoli yang selalu datang setiap kali aku pergi dari suatu tempat, atau hubunganku dengan kota ini yang berada di antara cinta dan benci, tapi kurasa sudah tidak ada lagi alasan bagimu untuk mendengar cerita-ceritaku yang tidak penting itu. Aku ingin kamu menjadi alasanku untuk tetap tinggal, tapi aku tahu sudah tidak ada apa pun lagi di antara kita yang bisa menjadikan kita alasan bagi satu sama lain untuk melakukan sesuatu.
Seperti roda yang terus berputar, untuk kesekian kalinya, aku akan pergi lagi.
Dan saat ini aku sedang menahan diri menghubungimu, berusaha menghentikan diri dari mencari alasan untuk menemuimu sekali lagi. Barangkali, memang harus seperti ini. Seperti yang terjadi lima belas tahun lalu, sembilan tahun lalu, atau tiga tahun lalu, kepergian demi kepergian inilah yang kita—atau mungkin hanya aku—perlukan. Agar aku tidak perlu terlalu sering mengingatmu, agar aku tidak kembali jatuh cinta pada masa lalu, agar seperti kamu, aku bisa melanjutkan hidup.
Barangkali, perpisahan ini yang aku perlukan supaya aku tidak terus menerus melihat ke belakang dan merindukanmu. Perpisahan ini yang aku perlukan agar rasa sayang ini tidak tumbuh semakin rimbun. Perpisahan ini yang aku perlukan agar aku bisa sepenuhnya menyadari bahwa kita sudah bukan lagi kita yang dulu dan aku tidak perlu terus menerus menggenggam masa lalu.
Inilah yang aku perlukan untuk melepaskanmu.
Jika kelak aku kembali dan kita bertemu lagi, kamu tidak perlu bertanya tentang perasaanku lagi.
Aku sudah melupakanmu.
Setidaknya, anggap saja begitu.