Sepuluh hari terakhir saya jalani dengan perasaan tidak menentu. Saya merasa lelah sepanjang hari, tersiksa karena kabut asap yang menyambut sejak hari kedatangan saya, bingung harus memulai segala sesuatu dari mana. Segalanya terasa tidak nyaman. Saya merasa kehilangan banyak bagian dari kehidupan saya, dan jika ada yang bisa membuat saya tetap waras, maka saya rasa, itu adalah karena kucing-kucing saya.
Tidak ada yang bertanya kepada saya apakah saya bahagia dengan keputusan ini; pulang—namun bagi saya tidak terasa seperti pulang. Pulang bagi saya tidak memiliki definisi yang sama dengan yang saat ini saya lakukan. Pulang bagi saya selalu melibatkan emosi—perasaan bahagia dan penuh, yang anehnya justru saya dapatkan ketika jauh dari rumah. Tidak ada yang berusaha mencari tahu apakah ini benar-benar hal yang saya inginkan, pulang ini. Sebab semua orang tampaknya merasa ini adalah sesuatu yang seharusnya saya lakukan, sehingga sudah seharusnya juga saya bahagia dan baik-baik saja. Bagi mereka, sudah seharusnya saya pulang. Bodo amat apakah saya bahagia, apakah kepulangan ini sejalan dengan keinginan saya, apakah hal-hal yang ada di sini bisa membantu saya berkembang atau tidak. Bodo amat. Mereka bahkan tidak repot-repot berusaha memahami bahwa saya perlu ruang untuk diri saya sendiri. Saya butuh banyak sekali waktu untuk kembali menata hidup saya. Untuk memulai lagi. Saya juga butuh banyak ruang untuk menyelesaikan tulisan-tulisan saya—yang bagi mereka bukan pekerjaan, dan bagi saya juga bukan, tapi tetap saja berupa sesuatu yang harus saya kerjakan kalau saya benar-benar ingin waras. Bagaimana cara saya membuat semua orang mengerti bahwa cara saya menjalani hidup saya berbeda dengan cara mereka?
Saya benci perasaan bersalah yang menghinggapi diri saya ketika saya menolak membantu, meskipun saya tahu saya tidak salah. Saya juga punya banyak hal yang harus dikerjakan dan saya tahu tidak akan ada yang bisa membantu saya selain diri saya sendiri. Ya, memangnya ada orang lain yang bisa mengerjakan tulisan-tulisan saya? Diam di kamar bukan berarti saya tidak punya sesuatu yang harus dikerjakan. Kenapa saya malas diajak ke mana-mana? Apakah saya tidak mau bersosialisasi? Tidak, saya hanya paham betul dengan diri saya. Ketika saya mengeluarkan energi untuk bersosialisasi, saya tidak akan punya energi untuk hal lain lagi.
Kalau begitu, kenapa kok masih bisa pergi dengan teman-teman?
Bagaimana cara saya menjelaskan kalau bertemu teman-teman memberikan saya sesuatu?
Tapi dijelaskan pun saya tahu akan memperpanjang perdebatan. Karena saya berbeda. Karena cara saya menjalani segala sesuatu tidak sama dan seharusnya sama, dan saya harus jujur tentang hal ini: saya tertekan.
Sepuluh hari terakhir, saya merasa sangat kesulitan menyeimbangkan ritme hidup saya. Saya hanya pengin ruang dan waktu yang lama untuk saya sendiri. Dan tampaknya itu juga adalah sesuatu yang mustahil terjadi.
Saya rindu perasaan pulang yang sesungguhnya.