Jika yang saya ketahui itu benar; kita diberikan pilihan untuk dilahirkan ke dunia atau tidak sebelum ruh ditiupkan, saya bertanya-tanya, apa yang membuat saya waktu itu menjawab “iya”.
Detik saat saya mulai menulis ini, saya merasakan kegagalan bertubi-tubi. Sebagai seorang anak, seorang saudara, seorang teman, seorang “ibu” bagi para kucing, bahkan saya gagal menjadi diri saya sendiri—jika penulis dan psikolog bisa dihitung sebagai bagian dari diri saya.
Saya menangis begitu keras hingga kepala saya sakit dan hidung saya mampet. Dada saya terasa sesak, bukan hanya karena menangis, tapi karena perasaan-perasaan yang membuncah dan meledak, yang di antaranya menyelinap perasaan putus asa, dan kecewa.
Saya kecewa pada diri saya karena saya tidak mampu mengatasi segala persoalan selayaknya seorang psikolog. Saya kecewa pada diri saya sendiri yang ternyata belum selesai dengan banyak hal di masa lalu. Saya kecewa karena apa yang teman-teman saya nilai dan katakan itu benar, dan mau bagaimanapun saya berusaha menolak dan membuat excuse, saya tidak bisa memungkiri kebenaran demi kebenaran yang mereka katakan tentang diri saya, tentang hidup saya, tentang segala hal.
Saat ini saya merasa nggak seharusnya saya jadi psikolog. Karena seharusnya psikolog nggak begini, kan? Nggak seharusnya psikolog labil, terbawa emosi, mengatasi masalah dengan cara yang nggak efektif. Psikolog harusnya punya emosi paling stabil dibandingkan semua orang, nggak meledak-ledak, nggak seperti saya.
Psikolog nggak seharusnya punya masa lalu yang belum selesai. Sementara saya masih punya kemarahan-kemarahan itu, kesedihan-kesedihan itu, perasaan-perasaan yang nggak hanya saya alami di masa kecil, tapi hingga dewasa. Memangnya, siapa yang nggak sakit hati dikatai bangsat padahal yang salah bukan kita?—itu salah satunya.
Detik saat saya menulis ini, saya mengevaluasi lagi semua yang ada dalam nyaris 3 dekade kehidupan saya—tentang menjadi psikolog, menjadi penulis, menjadi seorang teman, menjadi saudari, menjadi ibu kucing, menjadi seorang anak, menjadi diri saya sendiri, menjadi—ada dan berada—di dunia ini.
Saya nggak tahu bagaimana saya akan melalui waktu-waktu ini.
Kali ini, tanpa bermaksud mengeluh, saya cuma pengin bilang….
Kalau boleh milih lagi, saya pengin nggak usah dilahirkan aja.
Saya capek.