Journal, Random Thought

Dear Papah.

Papah sayang,

Hari ini lebaran pertama tanpa Papah. Minggu depan ulang tahun pertama Iis tanpa Papah.

Seharian ini Iis nahan nangis, Pah. Karena Iis tahu kalau Iis nangis gak akan bisa berhenti. Tapi, ternyata ditahan lama-lama gak kuat juga. Akhirnya Iis nangis, dan beneran gak bisa berhenti. Sampai Iis menulis ini, Iis belum berhenti menangis. Pandangan Iis buram tapi Iis tahu satu-satunya cara untuk melegakan hati Iis saat ini adalah dengan menulis ini.

Iis gak tahu apakah Papah bisa baca semua ini. Sama seperti Iis gak pernah tahu apakah Papah tahu betapa Iis sangat menyayangi Papah dan betapa kehilangan ini begitu menyakitkan dan menyiksa buat Iis. Iis gak tahu, tapi selalu ada rahasia kekuasaan Allah yang gak akan pernah Iis pahami, jadi Iis harap entah bagaimana caranya semua yang Iis tuliskan ini sampai ke Papah. Karena, yang Iis inginkan saat ini hanyalah bisa mengobrol sama Papah. Seperti obrolan pagi kita waktu Iis belum punya kerjaan, dengan pisang goreng atau roti yang Papah beli, dan teh hangat, atau kopi. Atau saat kita sarapan bareng di warung ketupat kandangan, atau soto banjar, atau soto babat. Saat-saat yang Iis gak pernah bayangkan ternyata gak akan pernah bisa Iis alami lagi bersama Papah.

Papah ingat gak beberapa tahun lalu waktu Iis nangis kenceng gara-gara putus sama seseorang? Iis inget waktu itu Iis merangkak naik ke tempat tidur Papah, dan Iis nangis di sana. Papah gak ngomong apa-apa, yang Papah lakukan cuma ngelus punggung Iis dan biarin Iis nangis sepuasnya. Tapi Iis tahu Papah tahu. Betapa waktu itu segalanya terasa menyakitkan buat Iis, dan betapa waktu itu Iis pikir adalah patah hati paling parah yang pernah Iis rasakan.

Tapi ternyata Iis salah. Saat Papah pergi, patah hati Iis waktu itu, yang sampai bikin Iis gak nafsu makan dan gak bisa tidur selama berminggu-minggu, gak ada apa-apanya dibandingkan patah hati karena kepergian Papah. Iis selalu percaya ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan. Dan kehilangan seorang ayah adalah sebenar-benarnya patah hati bagi kami. Orang-orang mungkin melihat setelah kepergian Papah kami (anak-anak perempuan Papah) bisa kembali melanjutkan hidup dengan baik. Tapi, Iis tahu, kami sama-sama tahu, ada luka besar yang masih menganga di dalam diri kami, yang gak kami ungkap kepada satu sama lain. Kami tahu saling mengungkapkan luka hanya akan membuat kami semakin terpuruk, maka yang tersisa yang dapat dilakukan hanyalah saling menguatkan. Bahwa meski semua ini terasa berat dan menyiksa, kami bisa, dan kami ada untuk satu sama lain.

Sayangnya, Iis juga tahu, selama puluhan hari terakhir sejak Papah pergi, Iis belum berduka dengan cara semestinya.

Ada hari di mana Iis menyadari kalau Iis berpura-pura semua ini gak terjadi.

Ada hari di mana Iis perlu datang ke makam Papah untuk benar-benar ngasih tahu diri Iis kalau papah memang sudah gak ada.

Ada hari di mana Iis sengaja menenggelamkan diri dalam kesibukan dan aktivitas untuk lupa kalau ada kesedihan yang belum tuntas.

Ada hari di mana Iis tiba-tiba terbangun tengah malam, atau dini hari, merasakan kehilangan, tapi menahan diri untuk tidak menangis, karena Iis tahu menangis gak akan membawa Papah kembali.

Iis menolak untuk berduka.

Dan hari ini Iis menyadari, selama ini Iis menolak untuk menerima.

Bahwa ada bagian dari Iis yang menunggu Papah pulang.

Ada bagian dari Iis yang berharap Papah cuma lagi pergi sebentar.

Ada bagian dari Iis yang ingin semua yang terjadi gak pernah terjadi.

Iis merasa marah dan Allah gak adil karena menjemput Papah terlalu cepat.

Tapi, Iis bisa apa, Pah?

Iis gak tahu harus gimana. Iis gak tahu harus ngapain setiap kali rindu Papah dan tiba-tiba nangis hebat gak berhenti-berhenti kayak sekarang.

Iis gak tahu harus ngapain saat Iis pengin cerita tentang laki-laki yang Iis sayang kayak yang biasa Iis lakukan saat Papah masih ada.

Iis gak tahu harus ngapain supaya kegelisahan yang membayangi Iis selama berpuluh hari terakhir mereda.

Iis gak tahu harus gimana supaya bisa tenang.

Bisakah Iis melewati semua ini, Pah?

Bisakah patah hati ini terobati?

Terlalu banyak pertanyaan yang ada di dalam diri Iis, Pah. Iis gak tahu harus nanya atau meminta jawaban ke siapa. Yang Iis tahu sekarang hanyalah mencoba menjalani hari demi hari, selangkah demi selangkah, kuat meski masih pura-pura, dan semoga pada akhirnya semua rasa marah dan gelisah yang membelenggu Iis terurai.

Semoga kelak Iis mampu mengenang hanya dengan doa dan kerinduan, bukan dengan kesedihan.

Selamat lebaran, Pah. Maafin Iis kalau belum bisa jadi anak perempuan yang baik untuk Papah.

Iis sayang Papah.

Leave a comment