Journal, Random Thought

Dear Papah. (2)

Pah hari ini dede ulang tahun.

Semakin terasa ya Pah kehilangannya. Biasanya kalau Iis dan dede ulang tahun, Papah bakal nyempetin masak sop buntut buat kami. Dan gak ada yang bisa masak sop buntut seenak masakan Papah.

Iis kebangun dan gak bisa tidur lagi Pah. Iis kangen banget sama Papah.

Kapan Iis bisa tenang, Pah?

Semakin lama rasanya malah semakin tersiksa.

Semakin lama Iis semakin sering kebangun tengah malam dan gelisah.

Semakin lama rasanya lukanya bukan makin kering tapi malah makin basah.

Tolong Iis, Pah.  Bantu Iis melewati ini.

Dulu setiap kali Iis merasa kesulitan dan merasa akan gagal dalam melakukan sesuatu, Papah selalu bilang “Gak apa-apa, yang penting Iis sudah melakukan yang terbaik.” Sekarang siapa yang akan bilang kayak gitu lagi ke Iis?

Siapa yang akan meyakinkan Iis kalau Iis bisa melakukan apa pun yang Iis pikir gak akan bisa Iis lakukan? Bahwa Iis bisa, asalkan Iis melakukan yang terbaik.

Apakah sekarang Iis sudah melakukan yang terbaik, Pah?

Apakah saat Papah masih ada, Iis sudah melakukan yang terbaik?

Iis harus tanya semua ini ke siapa, Pah?

Leave a comment